Rhipicephalus sanguineus tidak mati

Satu hal yang perlu menjadi catatan penting bagi pemabaca adalah metode perendaman ini efektif sebagai salah satu perlakuan dalam membunuh caplak. Karena setelah diuji cobakan 4 kali berturut-tuirut oleh peneliti, Rhipicephalus sanguineus tidak mati ketika direndam dalam air selama 15 menit. Adapun 1 ekor yang mati tersebut, kemungkinan besar karena kondisi caplak tersebut sedang lemah. Jadi banyaknya kematian caplak pada tabel hasil perendaman caplak dalam cairan daun pepaya dan daun mindi diatas bukan disebabkan caplal yang tidak bisa bernapas dengan air.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan walaupun hasil yang didapatkan tidak sesuai keinginan, dalam arti Rhipicephalus sanguineus dapat mati 100 % tetapi setidaknya dengan awal mula yang baik ini dapat memberikan peluang untuk kedepannya agar dapat lebih baik.

Dengan demikian proses penginfeksian daun pepaya dan daun mindi berpengaruh terhadap mati tidaknya caplak Rhipicephalus sanguineu.

Usia caplak

Berikut ini disampaikan beberapa kemungkinan menurut peneliti mengapa hasilnya tidak sesuai dengan harapan :
1. Waktu. Tentu saja sangat berpengaruh karena ternyata dari penelitian yang telah dilakukan, semakin lama waktu perendaman caplak maka semakin banyak pula caplak yang mati. Baik ketika menggunakan cairan daun pepaya maupun daun mindi. Tetapi dengan pertimbangan efektivitas, maka tidak dilakukan perendaman yang lebih lama lagi.
2. Metode penelitian ini juga salah satu faktor mengapa tingkat kematian Rhipicephalus sanguineus tidak 100% mati. Misalnya daun pepaya atau daun mindi terlebih dahulu direndam dalam air selama beberapa waktu, atau mungkin kondisi daunnya harus yang segar, bisa juga daunnya dipanaskan dibawah sinar matahari terlebih dahulu, atau bahkan harus ditambah zat lainnya.
3. Usia caplak. Pada penelitian yang telah dilakukan, caplak yang diujicobakan untuk dibunu memang mempunyai ukuran tubuh yang relatif sama namun bukan berarti usia caplak seluruhnya sama namun bukan berarti usia caplak seluruhnya sama.
4. Alat-alat yang digunakan tidak sesuai standart steril. Sehingga dimungkinkan masih terjadi pencemaran zat-zat lain yang ikut masuk dalam cairan daun pepaya maupun daun mindi.
5. Caplak yang direndam telah terresistensi oleh insektisida lainnya. Sehingga ketahanan caplak tersebut terhadap obat pembasmi lebih baik.

cairan daun mindi

Pada penelitian ini, cairan daun mindi mempunyai tingkat efektivitas yang lebih baik dibandingkan dengan cairan daun pepaya karena kandungan alkaloid yang dimiliki daun mindi labih banyak. Setiap 1 gramnya mengandung 18 % zat alkaloid, sedangkan pada daun pepaya hanya 8 % saja. Oleh peneliti hal itu telah dibuktikan dengan cara membandingkan tingkat kepahitan antara keduanya. Yang ternyata cairan daun mindi lebih pait dibandingkan cairan daun pepaya. Selain itu mindi juga mengandung bahan aktif margosim yang bersifat menolak serangga dan menghambat kerja syaraf dan respirasi serangga.

caplak Rhipicephalus sanguineus yang mati

Pada perlakuan pertama dengan empat kali perulangan ternyata didapatkan hasil bahwa rata-rata caplak Rhipicephalus sanguineus yang mati ada 3 ekor. Sedangkan pada perlakuan kedua juga dengan empat kali perulangan didapatkan hasil Rhipicephalus sanguineus yang mati ada 5 ekor.
Pada perlakuan ketiga dengan empat kali perulangan ternyata didapatkan hasil rata-rata Rhipicephalus sanguineus yang mati ada 4,5 ekor. Sedangkan pada perlakuan keempat rata-rata Rhipicephalus sanguineus yang mati ada 7,75 ekor.

Walaupun daun mindi lebih berhasil dalam membunuh Rhipicephalus sanguineus tetapi hasilnya tidak sesuai seperti yang diharapkan oleh peneliti, yaitu Rhipicephalus sanguineus mati 100%. Padahal menurut landasan teori, ekstrak daun mindi dapat digunakan sebagai bahan untuk mengendalikan hama termasuk belalang. Bila penelitian yang dilakukan lamanya mencapai 2 jam dipastikan semua caplak anjing dapat mati. Sedangan pada penelitian ini waktu yang dialokasikan hanya 10 menit dan 15 menit.

membunuh Rhipicephalus sanguineus

Tabel hasil penelitian daun mindi untuk membunuh Rhipicephalus sanguineus.

No Perlakuan III
(Rhipicephalus sanguineus direndam daun mindi selama 10 menit) Perlakuan IV
(Rhipicephalus sanguineus direndam daun mindi selama 15 menit)
1 3 ekor mati (mangkok 9) 7 ekor mati (mangkok 13)
2 4 ekor mati (mangkok 10) 6 ekor mati (mangkok 14)
3 5 ekor mati (mangkok 11) 8ekor mati (mangkok 15)
4 6 ekor mati (mangkok 12) 10 ekor mati (mangkok 16)
Rata-rata 4,5 ekor mati (22,5 %) 7,75 ekor mati (38,75 %)

Tabel hasil perendaman Rhipicephalus sanguineus menggunakan air (perlakuan kontrol).

No Perlakuan V
(Rhipicephalus sanguineus direndam dalam air selama 15 menit)
1 0 ekor mati (mangkok 17)
2 0 ekor mati (mangkok 18)
3 1 ekor mati (mangkok 19)
4 0 ekor mati (mangkok 20)
Rata-rata 0,25 ekor mati (1,25 %)

Next Page »